Indonesia lebih menarik di mata investor. Hal ini tercermin dalam credit default swap yang mengukur persepsi investor asing terhadap risiko investasi di Indonesia lebih landai. Indonesia CDS gerakan utang untuk semua tenor miring, jauh di bawah rata-rata selama tahun lalu.
CDS tenor lima tahun, misalnya, kini berada di posisi 133,25. Angka itu jauh di bawah tingkat rata-rata dalam setahun terakhir,, 141,044 jauh lebih sedikit daripada posisi tertinggi pada tahun 2011 mencapai 163,74. Demikian juga CDS untuk jatuh tempo utang satu, tiga, tujuh, dan sepuluh tahun.
Pada CDS terkikis, aliran dana asing (capital inflow) memasuki pasar instrumen keuangan Indonesia lebih cepat. Sampai akhir pekan lalu (28/07/2011), investor asing parkir uang di Obligasi Pemerintah (SBN) menjadi Rp 247500000000000 atau 25,3 persen dari total pemerintah sekuritas yang dapat diperdagangkan.
SBN tumbuh 26,9 persen selama tahun ini, naik menjadi Rp 12,5 triliun selama bulan Juli 2011. "Satu bulan ini, investor asing lebih menginvasi obligasi dibandingkan saham," kata Lana Soelistianingsih, ekonom Samuel Sekuritas, Senin (2011/01/08).
Dana asing di pasar saham serta Sertifikat Bank Indonesia juga terus meningkat. Indeks harga saham gabungan, Senin, mencapai rekor sepanjang waktu-tinggi pada 4193,44 posisi, sedangkan rupiah pada Rp 8.464 per dolar AS. "Di pasar negara berkembang tidak ada yang semenarik seperti Indonesia," kata Stephen PS, pengamat pasar modal UOB Kay Hian Securities.
Selain menghasilkan suatu faktor yang menarik, prospek ekonomi Indonesia menjadi penarik minat investor asing terbesar. Ekonom Mirza Adityaswara menunjukkan, indikator makroekonomi Indonesia masih jauh lebih baik daripada Amerika Serikat dan Eropa. Apalagi, jika inflasi dipertahankan stabil sampai akhir tahun. Tanpa kenaikan bahan bakar minyak, inflasi untuk menutup tahun ini, dalam perhitungan, akan berkisar antara 5 persen dan 5,5 persen.
Dengan situasi ini, ia memprediksi porsi dana asing bisa mencapai 40 persen dari semua dana berputar di akhir tahun ini sekuritas pemerintah. "Di saham, asing akan merambah ke topi kecil saham," kata Mirza.
A Prasetyantoko, ekonom Universitas Atmajaya, menambahkan, kelebihan likuiditas di pasar global masih besar. Indonesia menjadi pilihan di antara ekonomi pasar yang berkembang sebagai motor dunia, seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang, belum stabil.
02.39
tri




0 komentar:
Posting Komentar